7 Indikator Kebahagiaan Dunia

Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di masjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi'in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, iaitu :

Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.Memiliki jiwa syukur bererti selalu menerima apa adanya (qana’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah. Bila sedang kesusahan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu : "Kalau kita sedang susah perhatikanlah orang yang lebih susah dari kita". Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap “bandel” dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!

Kedua. Al azwaju shalihah, iaitu pasangan hidup yang soleh.Pasangan hidup yang soleh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang soleh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak isteri dan anaknya kepada kesolehan. Berbahagialah menjadi seorang isteri bila memiliki suami yang soleh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak isteri dan anaknya menjadi muslim yang soleh. Demikian pula seorang isteri yang soleh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang isteri yang soleh.

Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.Saat Rasulullah SAW lagi tawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai tawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : "Kenapa pundakmu itu ?" Jawab anak muda itu : "Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah uzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika solat, atau ketika istirehat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya". Lalu anak muda itu bertanya: " Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk ke dalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?" Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: "Sungguh Allah redho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu". Dari hadis tersebut kita mendapat gambaran bahawa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minima kita boleh memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang soleh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang soleh.

Keempat, albiatu sholihah, iaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.Yang dimaksudkan dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah hadisnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang soleh. Orang-orang yang soleh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. Orang-orang soleh adalah orang-orang yang bahagia kerana nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang soleh.

Kelima, al malul halal, atau harta yang halal. Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. "Kamu berdoa sudah bagus", kata Nabi SAW, "Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan”. Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kukuh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.

Keenam, Tafakuh fi dien,atau semangat untuk memahami agama.Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan meng ”hidup” kan hatinya, hati yang “hidup” adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.

Ketujuh, iaitu umur yang baroqah. Umur yang baroqah itu ertinya umur yang semakin tua semakin soleh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat “hidup” orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.

Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.
Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu’ mungkin membaca doa ‘sapu jagat’ , iaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut “Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw” (yang artinya “Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia ”), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah. Walaupun kita akui susah mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri. Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu “wa fil aakhirati hasanaw” (yang artinya “dan juga kebahagiaan akhirat”), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan syurga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Syurga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk syurga bukan kerana amal soleh kita, tetapi kerana rahmat Allah. Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan solat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk syurga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat syurga yang dijanjikan Allah. Kata Nabi SAW, “Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke syurga”. Lalu para sahabat bertanya: “Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?”. Jawab Rasulullah SAW : “Amal soleh saya pun juga tidak cukup”. Lalu para sahabat kembali bertanya : “Kalau begitu dengan apa kita masuk syurga?”. Nabi SAW kembali menjawab : “Kita dapat masuk syurga hanya kerana rahmat dan kebaikan Allah semata”.Jadi solat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk syurga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).

(Sumber tulisan: ceramah Ustad Aam Aminudin, Lc. di Sapporo, Jepang, disarikan secara bebas oleh Sdr. Asep Tata Permana, sedikit diedit oleh Penjaga Kebun Hikmah)

Dipetik dari
http://www.kebunhikmah.com/

Read Users' Comments (0)

Kenali Imam Hassan al-Banna

Imam Hassan al-Banna adalah seorang mujahid politik dan sosial Mesir yang lebih dikenali sebagai pengasas Ikhwan Muslimin.

Imam Hassan al-Banna ialah pengasas Ikhwan Muslimin, pertubuhan pembaharuan Sunnah yang paling besar dan berpengaruh dalam abad ke 20 ini. Ditubuhkan di Mesir pada 1928, Ikhwan Muslimin menjadi pergerakan politik terbesar yang secara terbuka menentang kebangkitan idea-idea barat dan sekular di Timur Tengah. Ikhwan mendapati idea-idea ini adalah punca kepada keruntuhan masyarakat Islam dalam dunia moden ini, dan meyakini bahawa kembali semula ke jalan Islam sebagai penyelesaian terhadap penyakit-penyakit yang telah menimpa masyarakat Islam. Kepimpinan Hassan al-Banna adalah kritikal terhadap perkembangan yang memberangsangkan ke atas Ikhwan sekitar tahun 30an dan 40an. Pada awal tahun 50an, beberapa cawangan Ikhwan telah ditubuhkan di Syria, Sudan dan Jordan. Tidak lama kemudian, pengaruh pergerakan ini dapat dirasai di tempat-tempat sejauh di Teluk dan di negara-negara bukan Arab seperti Iran, Pakistan, Indonesia dan Malaysia. Pemangkin kepada perkembangan ini adalah ketrampilan model pertubuhan ini disemadikan dalam bentuk asalnya seperti yang dipaparkan oleh Ikhwan Mesir, dan kejayaan hasil-hasil penulisan Hassan al-Banna. Diterjemahkan ke dalam beberapa bahasa, hasil-hasil penulisan ini sejak sekian lama telah membentuk generasi-generasi aktivis Sunnah di serata dunia Islam.

Hassan al-Banna telah dilahirkan pada tahun 1906 di Mahmudiyya, Mesir (barat-laut Kairo). Bapanya, Sheikh Ahmad al-Banna, adalah seorang guru masjid dan imam yang dihormati, berpendidikan di Universiti al-Azhar, yang telah bersatu tenaga dan menulis buku-buku tentang tradisi-tradisi orang Islam, dan juga memiliki sebuah kedai di mana beliau membaiki jam dan menjual gramofon. Walaupun Sheikh Ahmad al-Banna dan isterinya memiliki harta, mereka tidaklah kaya dan bertungkus lumus untuk mencukupkan keperluan kehidupan mereka, terutamanya setelah mereka berpindah ke Kairo pada tahun 1924. Seperti kebanyakan orang lain, mereka mendapati bahawa pendidikan Islam dan kealiman/kawarakan tidak lagi dihargai, dan ianya tidak dapat bersaing dengan industri berskala besar di ibu negara.

Apabila Hassan al-Banna berusia 12 tahun, beliau melibatkan diri ke dalam aliran Sufi dan menjadi ahli baru sepenuhnya dalam tahun 1922.

Apabila beliau berusia 13 tahun, Hassan al-Banna berpindah ke Kairo untuk memasuki Kolej Darul ‘Ulum. Kehidupan di pusat bandar menawarkan beliau ruang aktiviti yang luas daripada di luar bandar dan peluang untuk bertemu dengan ulama’ Islam yang muktabar (sesungguhnya, syukurlah di atas kenalan-kenalan bapanya), namun pemikiran dan perasaan beliau amat terganggu dengan kesan-kesan kebaratan yang dilihatnya di sana, khususnya kebangkitan sekularisma dan keruntuhan moral budaya. Empat tahun yang dihabiskannya di Kairo mendedahkan beliau kepada keserabutan politik di ibu negara Mesir pada tahun 20an, dan meningkatkan kesedaran beliau terhadap sejauh mana cara-cara Barat dan sekular telah menembusi keagungan masyarakat. Sejak itulah Hassan al-Banna menjadi asyik dengan apa yang dilihatnya di mana generasi muda semakin hanyut dari Islam. Beliau percaya bahawa perjuangan hati dan minda pemuda akan membuktikan kritikal kepada kelangsungan agama yang telah dikongkong oleh serangan Barat. Semasa belajar di Kairo, beliau mendalami hasil-hasil penulisan pengasas Reformisma Islam (gerakan Salafiah), termasuklah seorang Mesir bernama Muhammad ‘Abduh, yang telah dipelajari oleh ayah Hassan al-Banna sendiri semasa di al-Azhar. Namun, anak murid Muhammad ‘Abduh yang bernama Rashid Rida adalah yang banyak mempengaruhi Hassan al-Banna. Hassan al-Banna adalah pembaca setia Al-Manar, sebuah majalah yang diterbitkan oleh Rashid Rida di Kairo dari tahun 1898 sehinggalah kematian beliau pada tahun 1935. Hassan al-Banna bersependapat dengan kebimbangan utama Rashid Rida tentang keruntuhan tamadun Islam berbanding dengan Barat. Beliau juga percaya bahawa perkembangan ini dapat disekat dan dihapuskan dengan kembali kepada Islam dalam bentuknya yang tulin dan suci, bebas daripada segala bid’ah yang melemahkan kekuatan ajarannya yang asal. Seperti Rashid Rida di akhir hayat beliau – tetapi tidak seperti Muhammad ‘Abduh dan modenis-modenis Islam yang lain – Hassan al-Banna merasakan bahawa bahaya utama kepada kelangsungan Islam dalam zaman moden adalah berpunca daripada kebangkitan idea-idea sekular Barat lebih daripada konservatisma Al-Azhar dan ulama’ (yang dikritik beliau).

Beliau juga berasa kecewa dengan apa yang dilihatnya sebagai suatu kegagalan ulama’ Islam Universiti al-Azhar dalam menyuarakan penentangan mereka terhadap kebangkitan golongan yang tidak percaya kepada kewujudan Tuhan (atheisma) dan pengaruh mubaligh-mubaligh Kristian.

Dalam tahun terakhir di Darul ‘Ulum, beliau menulis bahawa beliau telah membuat keputusan untuk mendedikasikan dirinya sebagai “seorang kaunselor dan seorang guru” kepada orang dewasa dan kanak-kanak, dalam usaha untuk mengajar mereka tentang “objektif agama dan sumber-sumber kebahagiaan dan kesejahteraan dalam kehidupan”. Beliau menamatkan pengajiannya dalam tahun 1972 dan diberi jawatan sebagai guru bahasa Arab di sebuah sekolah rendah di Isma’iliyya, sebuah pekan luar bandar yang terletak di Zon Terusan Suez.

Usaha untuk mengembangkan risalah inilah yang membuatkan Hassan al-Banna melancarkan Ikhwan Muslimin pada tahun 1928. Pada awalnya, pertubuhan ini adalah salah satu daripada beberapa persatuan Islam kecil yang wujud pada ketika itu. Sama seperti yang telah disertai oleh Hassan al-Banna sendiri pada usia 12 tahun, persatuan-persatuan ini bertujuan untuk memupuk kealiman/kewarakan peribadi dan terlibat dalam aktiviti-aktiviti kebajikan. Lewat tahun 30an, Ikhwan Muslimin telah menubuhkan cawangan-cawangan di setiap wilayah Mesir. Sedekad kemudian, ia telah mempunyai 500,000 ahli yang aktif dan ramai penyokong di Mesir, sementara itu, tarikannya kini dapat dirasai di beberapa buah negara. Perkembangan Ikhwan Muslimin diumumkan selepas Hassan al-Banna memindahkan ibu pejabatnya ke Kairo pada tahun 1932. Faktor tunggal paling utama yang menyebabkan perkembangan dramatik ini berlaku adalah kepimpinan tanzim (pertubuhan) dan ideologi yang ditunjukkan oleh Hassan al-Banna.

Di Isma’iliya, di samping kelas pada waktu siangnya, beliau menyempurnakan niatnya untuk memberikan kelas pengajian malam kepada ibu bapa kepada para pelajarnya. Beliau juga berceramah di masjid, malah di kedai-kedai kopi, yang pada ketika itu usaha beliau ini dianggap sebagai suatu yang baru dan dipandang sebagai suatu kepercayaan moral. Pada permulaannya, beberapa pandangan beliau tentang perkara-perkata furu’ dalam Islam telah membawa kepada bantahan daripada golongan elit agama tempatan, dan beliau mengambil pendekatan/polisi mengelakkan sebarang kontroversi agama.

Beliau amat terkejut dengan begitu banyaknya kesan-kesan ketenteraan asing dan dominasi ekonomi yang jelas di Isma’iliyya: kem tentera British, kemudahan awam dimiliki oleh kepentingan-kepentingan asing, dan kediaman-kediaman mewah pekerja-pekerja asing dari Syarikat Terusan Suez, bersebelahan dengan tempat tinggal pekerja-pekerja Mesir yang begitu kotor dan menjelekkan.

Hassan al-Banna dikenali sebagai seorang yang memberikan impak yang besar di dalam pemikiran moden Islam. Beliau berjaya memperkenalkan semula Islam sebagai suatu sistem kehidupan yang syumul, menyediakan contoh yang praktikal dalam pertubuhan Ikhwannya.

Beliau berusaha untuk membawa perubahan yang diharapkan dalam pembangunan institusi, aktivisma berterusan di peringkat akar umbi, dan keyakinan terhadap kominikasi massa. Beliau meneruskan pembinaan sebuah pergerakan massa yang kompleks yang bercirikan struktur kekuasaan yang canggih; seksyen-seksyen yang bertanggungjawab dalam memajukan nilai-nilai masyarakat di kalangan para petani, pekerja-pekerja dan para profesional; unit-unit yang diamanahkan dengan fungsi-fungsi utama, termasuklah mempropagandakan risalah, mengadakan hubungan dengan dunia Islam, dan kewartawanan dan penterjemahan; dan jawatankuasa khas untuk hal-hal kewangan dan hal-hal perundangan.

Dalam usaha untuk menerajui pertubuhan ini ke dalam masyarakat Mesir, Hassan al-Banna dengan mahirnya yakin kepada rangkaian sosial sedia ada, terutamanya yang dibina di sekitar masjid-masjid, pertubuhan-pertubuhan kebajikan Islam dan kumpulan-kumpulan yang berdekatan. Kesatuan hubungan tradisional ke dalam struktur moden yang berbeza dan istimewa ini adalah asas kepada kejayaan beliau. Terikat secara terus dengan pertubuhan Ikhwan ini dan yang menyemai kepada perkembangannya adalah pelbagai bidang perniagaan, klinik dan sekolah. Tambahan pula, ahli-ahli disatukan dalam pergerakan melalui sebuah siri sel-sel, yang jelas diketahui umum sebagai usar (keluarga; kata tunggal: usrah). Sokongan material, sosial dan psikologi yang disediakannya mempengaruhi kemampuan pergerakan ini dalam menjanakan kesetiaan yang tidak berbelah bagi di kalangan ahlinya dan dalam usaha untuk merekrut ahli-ahli baru. Struktur perkhidmatan dan organisasi di sekitaran di mana pertubuhan ini dibina adalah bertujuan untuk membolehkan inidividu-individu menyatupadukan semula ke dalam ruang lingkup Islam yang jelas, dibentuk oleh prinsip-prinsip pertubuhan ini sendiri.

Berakar umbikan Islam, dakwah Hassan al-Banna menangani isu-isu termasuk kolonisma, kesihatan awam, polisi pendidikan, pengurusan sumber-sumber semulajadi, Maksisma, ketidakadilan sosial, nasionalisma Arab, kelemahan dunia Islam dalam senario antarabangsa, dan konflik yang memuncak di Palestin. Dengan menekankan kebimbangan yang dituntutnya ke atas pelbagai lapisan masyarakat, Hassan al-Banna berupaya merekrut daripada masyarakat Mesir – walaupun dari kalangan penjawat awam berpendidikan moden, pekerja-pekerja pejabat, dan profesional yang terus mendominasikan golongan aktivis dan pembuat keputusan bagi pertubuhan ini.

Pada ketika pertubuhan ini berkembang sekitar tahun 1930an, ia dengan pantas berubah daripada sebuah pergerakan yang berbentuk kerohanian dan reformasi moral kepada sebuah organisasi yang aktif secara langsung dalam senario politik Mesir. Serentak dengan transformasi ini, kecenderungan radikal diserapkan dengan sendirinya ke dalam organisasi ini. “Senjata rahsia” (al-jihad al-sirri) dibentuk, yang menjadi jentera kepada siri pembunuhan musuh-musuh Ikhwan.

Di antara tahun 1948 dan 1949, tidak lama selepas Ikhwan menghantar sukarelawannya untuk berjuang di dalam peperangan di Palestin, konflik di antara kekuasaan monarki dan pergerakan ini sampai ke kemuncaknya. Bimbang dengan kekuatan dan populariti Ikhwan, di samping khabar angin yang mengatakan pergerakan ini akan menggulingkan kerajaan, Perdana Menteri Nuqrashi Pasha mengharamkannya pada Disember 1948. Segala harta organisasi ini dirampas dan ramai ahlinya dipenjarakan. Kurang daripada tiga minggu kemudian, perdana menteri tersebut telah dibunuh oleh seorang ahli Ikhwan. Ini sebaliknya disusuli dengan pembunuhan Hassan al-Banna, yang dianggap dilakukan oleh seorang agen kerajaan, pada bulan Februari 1949, pada ketika usianya hanya 43 tahun dan di tahap kemuncak perjuangannya.

Beliau adalah datuk kepada Tariq Ramadhan dan abang kepada Gamal al-Banna.

Terjemahan Oleh : Saujana Hati

Read Users' Comments (0)

Wanita Di Pentas Dunia

Saya rasa tertarik untuk mengetengahkan tajuk penglibatan wanita dalam bidang politik. Daripada pembacaan saya, boleh dikatakan seluruh dunia hampir dikuasai oleh kaum hawa. Di Malaysia, penglibatan wanita dalam bidang politik merupakan satu perkara yang biasa. Contohnya seperti, Dato’ Azalina Othman, Senator Dato’ Dr. Mashitah, Dato’ Seri Rafidah Aziz, Dato’ Seri Shahrizat dan Dr.Wan Azizah.



Jika kita lihat pada masa kini, Cristina Fernandez de Kirchner adalah calon wanita yang membarisi senarai pemimpin wanita dunia yang menerajui negara masing-masing. Fernandez menjadi pemimpin wanita pertama dan terbaru di Argentina selepas meraih kira-kira 45 peratus undi dalam pilihan raya negara Amerika Latin itu pada Oktober 2007.




Pada pertengahan 2007, calon presiden wanita dari Perancis, Segolene Royala, hampir menewaskan Presiden Perancis sekarang, Nicolas Sarkozy, dalam pilihan raya negara itu, di Jerman, negara kuasa ekonomi utama dalam Kesatuan Eropah (EU),Angela Markel pula sudah menempah kedudukan sebagai Canselor wanita pertama negara itu pada November 2005. Markel menjadi wanita pertama mengepalai Jerman sejak negara itu menjadi negara bangsa moden pada 1871 dan pemimpin termuda Jerman sejak Perang Dunia Kedua.






Penghujung 2007, Hillary Rodham Clinton pula diuar-uarkan bakal menggegarkan kerusi presiden negara nombor satu dunia itu. Hillary, isteri bekas presiden Amerika, Bill Clington dikatakan menjadi calon keagamaan dalam kalangan puak Demokrat selain Barack Obama. Namun benarkah negara Uncle Sam itu akan membiarkan seorang wanita menjad pemimpin nombor satu dunia?? Sekiranya benar, bagaiman seorang wanita kulit putih akan mencorakkan dasar luar negara Amerika Syarikat yang terkenal sebagai ’sherif dunia’ dan memag pro-israel dalam keadaan apa sekalipun. Sama-samalah kita saksikan nanti.





Di rantau Asia Tenggara Presiden Filipina Gloria Macapagal terus memegang tampuk pemerintahan sejak 2001 sehingga kini. Arroyo terus bertahan meskipun beberapa kali menghadapi ancaman digulingkan kuasa yang didalangi tentera serta dakwaan penyelewengan pilihan raya terhadap beliau di samping kes rasuah dikaitkan dengan suami dan ahli keluarganya yang lain.



Dalam senario negara umat Islam, fenomena ini tidak terkecuali. Paling mutakhir ini di Pakistan. Kepulangan bekas Perdana Menteri negara itu, Benazir Bhutto dari buangan selama lapan tahun, memberi harapan baru kepada penyokongnya dari Parti Progresif Pakistan (PPP). Malangnya, kepulangan Benazir yang bermazhab Syi’ah itu, menjelang Hari Raya Aidilfitri 207, tidak disambut dengan bunga api kegembiraan tetapi dengan letupan bom. Kejadian itu bukan sahaja merumitkan krisis politik Pakistan yang semakin tidak keruan akibat ketegaran Presiden Jeneral Pervez Musharraf untuk terus berhelah memegang kuasa, malah mencetuskan tragedi keganasan yang mengorbankan ratusan nyawa dan antara yang terburuk dalam sejarah negara itu.


Pada 2001, jiran kita, Indonesia, negara yang paling ramai umat Islam di sunia, telah memilih seorang wanita menjadi presiden, Megawati Sukarnoputri. Anak bekas Bapa Kemerdekaan Indonesia itu, bagaimanapun hanya mampu bertahan selama kira-kira tiga tahun sahaja. Beliau tewas kepada Susilo Bambang Yudhoyono dalam pilihan raya presiden 2004 selepas dilantik menggantikan presiden sebelumnya, Abdurrahman Wahid yang sarat dengan kontroversi.

Pada pendapat saya, penglibatan wanita dalam bidang politik ini sudah menjadi trend semasa dalam arus perdana politik dunia. Adakah pemimpin wanita akan menjadikan sesebuah negara itu bertambah baik, setaraf dengan lelaki atau lebih buruk? Benarkah fenomena ini juga menggambarkan golongan wanita yang berpendidikan kini menjadi kelompok majoriti yang mengatasi kaum lelaki. Apa sebenarnya yang terjadi dengan dunia kita?? Di sudut lain pula, apabila semakin ramai wanita dinobatkan sebagai pemimpin sesebuah negara, adakah ia sebagai tanda kiamat? Ayuh bersama kita renungkan.

Di manakah kaum lelaki? Mengapakah kaum lelaki kurang mendapat perhatian di pentas politik? Bagi sesiapa yang mempunyai pendapat mengenai tajuk ini, sila kemukakan. Ayuh bersama kita tegakkan dunia Islam!!Wallahua’alam...
(Sumber: Majalah Haluan dan Majalah VISI )

Read Users' Comments (0)